5 Prinsip Hidup yang Bisa Membuat Anda Selalu Tenang dalam Menjalani Kehidupan

Saturday, June 4, 2016


Seorang anak bertanya kepada neneknya yang sedang menulis sebuah surat.

"Nenek lagi menulis tentang pengalaman kita ya? atau tentang aku?"

Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya,
"Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang nenek pakai".

"Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti" ujar si nenek lagi.

Mendengar jawab ini, si cucu kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang nenek pakai.

"Tapi nek, sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya." Ujar si cucu

Si nenek kemudian menjawab, "Itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini."
"Pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini."

Si nenek kemudian menjelaskan 5 kualitas dari sebuah pensil.

Kualitas pertama, pensil mengingatkan kamu kalo kamu bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya.

Kualitas kedua, dalam proses menulis, nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik.


Kualitas ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar.

Kualitas keempat, bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu.

Kualitas kelima, adalah sebuah pensil selalu meninggalkan tanda atau goresan. Seperti juga kamu, kamu harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan.

Pendiri WhatsApp, Dari Remaja Miskin Kini Jadi Triliuner


Jan Koum, pendiri WhatsApp, lahir dan besar di pinggiran kota Kiev,Ukraina, dari keluarga yang relatif miskin. Saat usia 16 tahun, ia nekat pindah ke Amerika, demi mengejar apa yang kita kenal sebagai “American Dream”.

Pada usia 17 tahun, ia hanya bisa makan dari jatah pemerintah. Ia nyaris menjadi gelandangan. Tidur beratap langit, beralaskan tanah. Untuk bertahan hidup, dia bekerja sebagai tukang bersih-bersih supermarket. “Hidup begitu pahit”, Koum membatin.

Kekayaan Tidak Akan Bisa Membeli Kebahagiaan


Pak Handoyo adalah seorang pengusaha paling kaya nomor 2 di kotanya. Pak Handoyo selalu mengajarkan pada keluarganya untuk menabung dan tidak boros. Meski mereka keluarga kaya, namun harus tetap bisa bijaksana dalam menggunakan uang dan harta yang mereka miliki.

Kendati begitu, Pak Handoyo tahu bahwa anak-anaknya terlalu sering bergaul dengan teman-teman dari latar belakang yang sama. Oleh karena itu, Pak Handoyo ingin memberi pandangan lain pada anaknya yang mulai remaja itu.

Suatu ketika, saat liburan sekolah tiba, ia mengajak anaknya untuk bepergian ke desa. Ia ingin menunjukkan padanya suasana pedesaan yang jauh berbeda dengan kota yang riuh dan modern. Sang anak pun melihat rumah-rumah penduduk yang sepertinya seukuran dengan garasi mobil ayahnya.

Pak Handoyo mengatakan, "Lihat, Nak. Rumah-rumah ini lebih kecil dari rumah kita. Apakah kamu bisa melihat seberapa kaya mereka?"

Sang anak melihat ke arah pemukiman yang terhampar di hadapannya. "Iya. Kita punya 1 anjing, mereka punya banyak sapi. Kita punya kolam renang, mereka punya sungai yang besar. Kita punya lampu antik di rumah, mereka setiap malam bisa melihat bulan dan bintang," jawabnya.

Kemudian sang ayah bertanya, "Lantas bagaimana?"

Sang anak kembali menjawab, "Saat kita sering beli bahan makanan, mereka menanam dan memanen sendiri. Aku punya mainan, mereka punya teman. Kita dilindungi pagar yang tinggi dan kokoh, mereka punya tetangga yang saling menyapa. Kita punya tetangga yang punya anak seumuran denganku, tapi aku hampir tak pernah bertemu dengan mereka."


Mendengar jawaban ini, sang ayah tersenyum. Sang anak kemudian menyimpulkan, "Terima kasih, Ayah. Kau telah mengajarkan aku bahwa mungkin kita kaya dan punya segalanya, tapi mungkin.. hidup bukan sekedar tentang semua itu."

Sang ayah mengangguk sambil tersenyum, "Bukan uang yang membuat kita bahagia. Tapi kesederhanaan kecil yang mereka miliki yang sebenarnya membuat seseorang bisa bahagia. Teman, keluarga, sosialisasi, keterbatasan, kerja keras, solidaritas, hal-hal seperti ini sebaiknya kau pelajari sejak muda."

"Ayah tak langsung lahir sebagai orang kaya. Ayah ingin kamu belajar bahwa kebahagiaan lebih penting dari semua yang nanti akan ayah wariskan padamu," ujarnya.

Kisah Nyata Wanita Cantik Dan Pria Buruk Rupa


Ketika menelusuri sebuah jalan di kota Bashrah, Al Atabi melihat seorang wanita yang sangat cantik sedang bersenda gurau dengan seorang lelaki tua buruk rupa. Setiap kali wanita itu berbisik, laki-laki tersebut pun tertawa.

Al Atabi yang penasaran kemudian memberanikan diri bertanya kepada wanita itu. “Siapa laki-laki tersebut?”

“Dia suamiku”, jawab wanita itu.

“Kamu ini cantik dan menawan, bagaimana kamu dapat bersabar dengan suami yang jelek seperti itu? Sungguh, ini adalah sesuatu yang mengherankan” Al Atabi meneruskan pertanyannya.
“Barangkali karena mendapatkan wanita sepertiku, maka ia bersyukur. Dan aku mendapatkan suami seperti dirinya, maka aku bersabar. Bukankah orang yang sabar dan syukur adalah termasuk penghuni surga? Tidak pantaskah aku bersyukur kepada Allah atas karunia ini?”

Al Atabi kemudian meninggalkan wanita itu disertai kekaguman. Ulama Al Azhar, Dr Mustafa Murad, juga kagum dengan wanita itu sehingga memasukkan kisah ini dalam bukunya Qashashush Shaalihiin. Kedua ulama tersebut tidaklah kagum kepada wanita itu karena kecantikannya. Mereka kagum karena agamanya.

Dan benarlah pesan Rasulullah: “Wanita itu dinikahi karena empat hal; karena hartanya, kedudukannya, kecantikannya dan agamanya. Maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wanita yang baik agamanya, ketika ia kaya, ia tidak sombong. Ia justru dermawan, suka berinfaq dan mendukung perjuangan dakwah suami dengan hartanya.

Wanita yang baik agamanya, ketika ia memiliki kedudukan tinggi dan nasab yang mulia, ia tidak menghina orang lain. Ia justru menjadi wanita yang mulia dan menggunakan kedudukannya untuk membela kebenaran.

Wanita yang baik agamanya, ketika ia cantik, ia tidak membuat suaminya resah. Ia justru menjadi penghibur hati dan penyejuk mata bagi suaminya tercinta.

Kisah Seorang Kyai Dan Pelacur


Ada seorang wanita yang kesehariannya hidup sendiri tanpa keluarga yang mendampinginya. Dia bekerja tiap malam untuk menghidupi dirinya sendiri. Pekerjaannya tidak lain adalah sebagai pelacur rendahan. Awalnya hanya sebagai pelacur jalanan. Setelah beberapa lama dia bekerja sebagai pelacur akhirnya dia mendapatkan pelanggan tetap. Karena dia mempunyai pelanggan tetap akhirnya pelacur tersebut mengotrak sebuah rumah sekaligus sebagi tempat kerjanya. Kebetulan rumah tersebut berada persis di depan sebuah pesantren besar yang mempunyai ribuan santri. Di dalam pesantren tersebut hidup seorang kyai besar yang tiap harinya mengurusi para santri, kehidupannya penuh dengan ibadah.

Suatu saat dia melihat didepan pesantrennya ada rumah kecil yang selalu tertutup akan tetapi sering dikunjungi orang. Akhirnya dia tahu dari beberapa warga bahwa penghuni rumah tersebut adalah seorang wanita yang hidup sendirian. Setiap pagi hari dia memperhatikan rumah tersebut, jika pada waktu pagi sepi. Siang harinya juga dilihat lagi ternyata sepi. Sore harinya juga dilihat lagi ternyata masih sepi. Menginjak tengah malam dia melihat lagi ternyata ada satu mobil datang kerumahnya. Setelah melihat itu sang kyai semakin sering memperhatikannya. Satu persatu mobil yang mampir ke rumahnya dihitung seberapa banyak orang yang mampir ke rumahnya. Jadi setiap malam setiap hari sang kyai selalu memperhatikannya menghitung hitung berapa orang yang mampir ke rumahnya. Setiap kali melihat hal tersebut terbesit di dalam hati sang kyai “setiap hari aku melihat ini, berapa dosa yang dia kumpulkan hingga saat ini”

Pada suatu hari setelah beberapa lama kemudian sang kyai wafat. Ribuan orang berdatangan untuk melayat dan menghantarkan ke liang kubur. Setelah kyai tersebut wafat anehnya rumah pelacur tersebut juga tampak sepi dan sunyi. Pagi, siang, sore hingga malam pintunya tak pernah terbuka dan lampunya selalu dalam keadaan mati.


Setelah beberapa hari kemudian beberapa warga mencium bau tidak sedap dari rumah pelacur tersebut. Akhirnya warga membuka paksa rumah tersebut dan didapati si pelacur telah mati. Kematian tersebut diperkirakan bersamaan dengan kematian sang kyai.

Sang kyai telah meninggal begitu juga pelacur tersebut juga meninggal. Dalam perjalanan akhirat mereka berdua bertemu di tengah jalan. mereka masing-masing didampingi satu malaikat. Akhirnya terjadilah dialog :

Kyai : Hai pelacur kamu mau ke mana? Pelacur : Saya akan ke surga.

Kyai : Tidak mungkin kamu ke surga karena hidup kamu penuh dengan dosa.

Pelacur : Hidup saya memang penuh dengan dosa, tapi hal itu saya lakukan karena tidak ada pilihan lain dan saya tidak pernah berniat untuk melakukan hal tersebut.

kyai : Saya yang akan menuju surga karena hidupku penuh dengan ibadah setiap hari.

Kemudian kyai bertanya pada Malaikat:

Kyai : Malaikat, apakah benar perempuan ini akan menuju surga..?

Malaikat : Ya, benar perempuan ini menuju surga dan anda akan menuju neraka.

Kyai : Tidak bisa.!!, kehidupan saya terbalik dengan dia. Hidup saya penuh dengan amal ibadah dan dia penuh dengan dosa. Pasti ada kesalahan. Saya tidak percaya ini, coba tanyakan pada Allah.

Akhirnya Malaikat pergi menghadap Allah dan beberapa saat kemudian kembali lagi.

Kyai : Bagaimana Malaikat? Saya pasti ke surga dan dia ke neraka.

Malaikat : Tidak, kamu tetap keneraka dan perempuan ini ke surga.

Kyai : Loh.. kok bisa?

Malaikat : Memang benar hidup kamu penuh dengan ibadah, pahala. Hidup kamu lebih baik dengan dia. Akan tetapi setiap kali kamu melihat rumahnya kamu selalu menghitung-hitung kesalahannya. Dan setiap kamu menghitung kesalahan perempuan ini pahalamu diberikan kepada perempuan ini sampai akhirnya pahalamu habis. Dan akhirnya perempuan ini masuk surga karena pahala yang kamu berikan. Bukankah kamu seorang kyai sudah tahu hal ini? Bukankan kamu seorang kyai sudah mengerti hal ini? Akan tetapi kenapa kamu masih saja menghitung-hitung kejelekan orang lain. Menghitung-hitung kesalahan orang lain.

Mendengar penjelasan tersebut, sang kyai masih saja ngotot tidak menerima. Tapi apalah artinya sudah di akhirat. Penyesalanpun tiada artinya.

Kisah Seorang Gadis Kecil Bersama Rasulullah Saw Saat Idul Fitri

Tuesday, May 31, 2016


Kisah ini terjadi di Madinah,pada suatu pagi Hari Raya Idul Fitri. RasulullahSaw, seperti biasa tiap hari lebaran, mengunjungi rumah demi rumah untuk mendo’akan kaum Muslim agar merasa gembira dan bahagia pada hari raya itu. Semua terlihat merasa gembira dan bahagia, terutama anak-anak. Mereka bermain sambil berlari-lari ke sana ke mari dengan mengenakan pakaian yang bagus serta mainan-mainan ditanganya. Namun, tiba-tiba Rasulullah Saw melihat di sebuah sudut jalan ada seorang gadis kecil sedang duduk bersedih sambil menangis . Ia memakai pakaian yang sangat lusuh serta rambut yang acak- acakan dan sepatu yang telah usang. Rasulullah pun bergegas menghampirinya. Gadis kecil itu menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya, lalu menangis tersedu-sedu. Rasul kemudian meletakkan tangannya dengan penuh kasih sayang di atas kepala gadis kecil tersebut, lalu bertanya dengan suaranya yanglembut:

“Anakku, mengapa kamu menangis? Hari ini adalah hari raya bukan?” Gadis kecil itu terkejut. Tanpa berani mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang bertanya, perlahan-lahan ia menjawab sambil bercerita:

“Pada hari raya yang suci ini semua anak menginginkan agar dapat merayakannya bersama orang tuanya dengan berbahagia. Anak-anak bermain dengan riang gembira. Aku lalu teringat pada ayahku, itu sebabnya aku menangis. Ketika itu hari raya terakhir bersamanya.Ia membelikanku sebuah gaun berwarna hijau dan sepatu baru.

Waktu itu aku sangat bahagia. Lalu suatu hari ayahku pergi berperang bersama Rasulullah Saw. Ia berjuang bersama Rasulullah Saw bahu- membahu dan kemudian ia meninggal. Sekarang ayahku tidak ada lagi. Aku telah menjadi seorang anak yatim. Jika aku tidak menangis untuknya, lalu siapa lagi?”

Setelah Rasulullah mendengar cerita itu, seketika hatinya diliputi kesedihanyang mendalam. Dengan penuh kasih sayang ia membelai kepala gadis kecil itu sambil berkata:

“Anakku, hapuslah air matamu… Angkatlah kepalamu dan dengarkan apa yang akan kukatakan kepadamu…. Apakah kamu ingin agar aku menjadi ayahmu?…. Dan apakah kamu juga ingin agar Fatimah menjadi kakak perempuanmu…. dan Aisyah menjadi ibumu…. Bagaimana pendapatmu tentang usul dariku ini?”

Begitu mendengar kata-kata itu, gadis kecil itu langsung berhenti menangis.Ia memandang dengan penuh takjub orang yang berada tepat di hadapannya. Masya Allah! Benar, ia adalahRasulullahSaw,orang tempat ia baru saja mencurahkan kesedihannya dan menumpahkan segala gundah di hatinya.

Gadis yatim kecil itu sangat tertarik pada tawaran Rasulullah, namun entah mengapa ia tidak bisa berkata sepatah kata pun. Ia hanya dapat menganggukkan kepalanya perlahan sebagai tanda persetujuannya. Gadis yatim kecil itu lalu bergan dengan tangan dengan Rasulullah Saw menuju ke rumah. Hatinya begitu diliputi kebahagiaan yangsulit untuk dilukiskan, karena ia diperbolehkan menggenggam tangan Rasulullah yang lembut itu. Sesampainya di rumah Rasulullah, wajah dan kedua tangan gadis kecil itu lalu dibersihkan dan rambutnya disisir olehbeliau. Semua memperlakukannya dengan penuh kasih sayang.

Gadis kecil itu lalu dipakaikan gaunyang indah dan diberikan makanan, juga uang saku untuk hari raya. Lalu ia diantar keluar, agar dapat bermain bersama anak-anak lainnya. Anak-anak lain merasairi padagadis kecil dengan gaun yang indah dan wajah yang berseri-seri itu. Mereka merasa keheranan,lalu bertanya:

“Gadis kecil, apayangtelahterjadi? Mengapakamu terlihat sangat gembira?” Sambil menunjukkan gaun baru dan uang sakunya gadis kecil itu menjawab :

“Akhirnya aku memiliki seorang ayah! Di dunia ini, tidak ada yang bisa menandinginya! Siapa yang tidak bahagiamemiliki seorangayah seperti Rasulullah? Aku juga kini memiliki seorang ibu, namanya Aisyah, yang hatinya begitu mulia. Juga seorang kakak perempuan, namanya Fatimah. Ia menyisir rambutku dan mengenakanku gaun yang indah ini. Akumerasasangat bahagia, dan ingin rasanya aku memeluk seluruh dunia beserta isinya.”

Adakahkita sekarang peduli terhadap mereka saudara-sau

My Blog List

Main-nav-Menu (Do Not Edit Here!)

Text Widget

About me

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

Search

Popular Posts

About Me

Laman

BTemplates.com

Flickr Images

Pages

About